Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com – Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi meminta PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) untuk memperdagangkan powder kakao, selain biji kakao yang diresmikan hari Kamis (15/12/2011) yang bertepatan dengan 11 tahun beroperasinya BBJ atau JFX.

Bayu merasa senang yang dipergunakan dalam future kontraknya adalah Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) grade fermented kakao, itu bagus jadi dia akan mempromosikan fermentasi dari produk kakao.

“Tetapi mohon dipertimbangkan kenapa tidak masuk juga ke powder grade untuk kakao,” ujarnya.

Menurut Bayu, karena kalau fermented grade itu masih biji. Padahal di sisi lain pemerintah menerapkan kebijakan bea keluar (BK) kakao untuk mendorong supaya terjadi hilirisasi dari industry.

Dan setahu saya, lanjut Bayu future price untuk powder itu tidak ada, nah jadi kalau BBJ mulai future pricenya dari powder, kita akan punya posisi khusus di dunia per-kakao-an, mau tidak mau orang akan datang ke sini untuk melihat referensi harganya. “Ini hanya salah satu contoh,” tambahnya.

Dalam kaitan ini pemerintah dan petani itu berharap lebih kepada BBJ, justru karena BBJ berhasil maka kita membayangkan 11 tahun yang akan datang kita betul-betul punya posisi yang berbeda.

Dalam memperingati HUT BBJ atau JFX yang ke-11 dan memasukkan salah satu andalan produk komiditas Indonesia ke dalam pasar berjangka. “Saya memandang itu sebagai sebuah keberhasilan 11 tahun yang lalu, dan tantangannya adalah bagaimana 11 tahun ke depan,” tegasnya.

Bayu meminta agar BBJ bisa menunjukkan keberadaannya tidak hanya untuk BBJ, ini tantangan ke depan. Oleh sebab itu kenapa kita dorong juga kakao masuk kesini? Karena sawit dan kakao misalnya itu adalah produk andalan kita yang cukup besar kontribusinya di dunia.

Seharusnya harapan kita price discovery market untuk sawit maupun kakao mencerminkan kepentingan kita, mencerminkan kepentingan petani, mncerminkan kebijakan-kebijakan di bidang kakao.

Direktur BBJ atau JFX, Bihar Sakti Wibowo mengatakan produk bursa berjangka kakao yang diluncurkan merupakan produk komoditi ke-9 dari produk yang telah ada. Tujuan diluncurkan produk komiditi kakao ini adalah selain price discovery atau pembentukan harga juga memberikan fasilitas hedging atau lindung nilai kepada para pelaku usaha dan industri kakao cokelat nasional.

“Indonesia adalah produsen kako no 3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, seharusnya Indonesia mampu menjadi referensi harga biji kakao dan cokelat di dunia,” kata Bihar optimis.

Menurut Bihar, selain bermanfaat bagi pelaku industri cokeleat nasional maupun pengusaha kakao, kontrak berjagka kakao yang dipedagangkan di BBJ juga akan membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu biji kakao nasional.

Karena kakao yang dipedagangkan di BBJ adalah jenis biji kakao yang fermented, hal ini sekaligus akan memicu pengusaha kakao nasional untuk meningkatkan kualitas biji kakaonya yg saat ini 90% masih berjenis unformanted.

Bihar juga menjelaskan kontrak kakao ini diperdagangkan dengan simbol CC5, dimana setiap 1 lot mempunyai nilai 5 metrik ton, dengan bulan kontrak adalah Maret, Mei, Juli, September dan Desember.

Sedangkan mutu biji kakao yang diperdagangkan adalah kakao fermentasi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dan sebagai tempat penyerahan dilakukan di gudang penyimpanan terdaftar Makassar, Palu dan Lampung. * (Syam)