Oleh : Syamhudi

 

Jakarta, Mediaprofesi.com - Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) menutup tahun 2018 dengan pencapaian transaksi kontrak yang melebihi target, baik kontrak multilateral maupun kontrak bilateral.

 

“Kontrak multilateral melebihi target sebesar 10,9% dari target 1.204.759 lot mencapai 1.335.815 lot pada akhir tahun,” ujar Stephanus Paulus Lumintang, Direktur Utama JFX dalam acara media gathering hari Rabu (9/1/2019) di Jakarta.

 

Menurut Paulus, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ada kenaikan yang cukup signifikan yaitu sebesar 22,48% dari 1.090.602 lot per akhir Desember tahun lalu mencapai 1.335.815 lot pada akhir Desember 2018.

 

Volume transaksi multilateral ini 25 % dari total transaksi bilateral. Sementara kontrak bilateral naik 31,91 % dari 4.092.414,57 lot per Desember 2017 menjadi 5.398.269,14 lot pada akhir Desember 2018.

 

Kontrak multilateral yang banyak diperdagangkan sepanjang tahun 2018 adalah Kontrak Emas yang tercatat sebesar 576.854 lot atau 43,2% dari keseluruhan kontrak multilateral.

 

Disusul oleh Kontrak Kopi sebesar 513.164 lot atau 38,4% dari volume multilateral, Kontrak Olein sebesar 183.075 lot atau 13,7% dan Kontrak Kakao sebesar 62.722 lot atau 4,7% dari keseluruhan multilateral.

 

Harga emas yang cukup fluktuatif sepanjang tahun 2018 menjadi pendorong ramainya transaksi Kontrak Berjangka Emas di Bursa Berjangka Jakarta.

 

Sementara Demand Kopi di pasar lokal yang semakin tinggi dan harga yang membaik dibanding tahun lalu menjadi pemicu pertumbuhan transaksi kopi di Bursa Berjangka Jakarta. Sementara.

 

Peran pialang tidak dapat dipisahkan dari peningkatan volume transaksi pada tahun 2018. Disamping itu, juga dengan dukungan kebijakan dari Bappebti dan para pelaku pasar yang semakin dewasa dalam berinvestasi.

 

Prospek & Outlook 2019

Mengingat tahun 2019 adalah tahun politik, sehingga investor dinilai tidak terlalu banyak mengalami perubahan di BBJ. Alasan lainnya karena bertumbuhnya model investasi finansial teknologi lain yang berkembang di Indonesia.

 

Namun demikian, BBJ optimis akan terjadi kenaikan transaksi multilateral sebesar 20% dari 1.200.000 lot pada tahun 2018 menjadi 1.450.000 lot pada tahun 2019.

 

Strategi yang akan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ini adalah melakukan revitalisasi dan fokus pada produk yang diminati oleh pelaku usaha.

 

Kontrak Emas Syariah misalnya, akan diluncukan dalam waktu dekat ini, menunggu persetujuan dari Bappebti. Demikian juga Kontrak Karet masih menunggu kesepakatan dan kesepahaman dari 2 negara lainnya, yaitu Thailand dan Malaysia.

 

Strategi lain adalah mengajak anggota BBJ dan masyarakat pelaku usaha serta para investor untuk melakukan transaksi multilateral.

 

Sementara itu, transaksi Bilateral ditargetkan tumbuh 20% atau naik menjadi 5.400.000 lot pada tahun 2019 dari 4.500.000 lot pada tahun 2018. * (Syam)